Makkah — Di antara lantunan doa dan langkah jamaah yang mengitari Ka’bah, terselip harapan untuk negeri yang dicintai. Megawati Soekarnoputri memanjatkan doa di Tanah Suci agar Indonesia terus bersatu dan dijauhkan dari perpecahan. Doa itu dipanjatkan dengan khusyuk, sederhana, dan penuh ketenangan—sebuah pesan persaudaraan yang melampaui ruang dan waktu.

Momen tersebut berlangsung di sela rangkaian ibadah umrah. Tidak ada pidato panjang atau gestur berlebihan. Yang ada adalah hening, ketundukan, dan harapan agar kebersamaan tetap menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Doa untuk Persatuan di Ruang Spiritual

Tanah Suci kerap menjadi ruang refleksi terdalam. Di tempat inilah doa-doa dipanjatkan tanpa sekat, menyatu dengan jutaan harapan dari berbagai penjuru dunia. Dalam suasana itu, Megawati menyampaikan ikhtiar batin agar Indonesia tetap rukun, saling menghormati, dan menguatkan.

Doa persatuan menjadi relevan di tengah dinamika sosial yang kerap menguji kebersamaan. Harapan agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan terasa mengalir, membumi, dan dekat dengan kegelisahan banyak orang.

Kesederhanaan yang Menguatkan Makna

Megawati menjalani ibadah dengan kesederhanaan. Langkah-langkahnya tertata, doa dipanjatkan lirih. Dalam kesunyian itulah pesan persatuan terasa lebih kuat—bahwa kepemimpinan juga lahir dari kerendahan hati dan kepedulian pada sesama.

Bagi jamaah yang menyaksikan, momen ini memperlihatkan sisi kemanusiaan: seorang ibu bangsa yang memohon kebaikan untuk rakyatnya, tanpa jarak protokoler, tanpa atribut duniawi.

Persatuan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Doa agar Indonesia tetap bersatu bukan hanya harapan personal. Ia menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kerja kolektif. Setiap warga memiliki peran menjaga tutur, merawat empati, dan menghormati perbedaan.

Dalam konteks kemanusiaan, persatuan berarti saling melindungi—terutama yang rentan. Dalam konteks hukum dan ketertiban, persatuan berarti taat aturan dan menjunjung keadilan. Nilai-nilai ini menemukan momentumnya ketika dipanjatkan dari ruang spiritual yang hening.

Tanah Suci dan Harapan untuk Negeri

Di Masjidil Haram, doa-doa menyatu dengan gema langkah jamaah. Setiap putaran tawaf mengingatkan bahwa perbedaan arah langkah bisa tetap menuju satu tujuan. Sebuah metafora sederhana tentang kebersamaan dalam keberagaman.

Harapan agar Indonesia dijauhkan dari perpecahan menjadi doa yang berulang. Bukan untuk meniadakan perbedaan, melainkan untuk merawatnya dalam bingkai saling menghormati.

Menutup dengan Ketenteraman

Saat ibadah berlanjut, ketenangan tetap menyertai. Doa telah dipanjatkan, harapan telah dititipkan. Yang tersisa adalah komitmen untuk menjaga persatuan dalam tindakan sehari-hari.

Dari Tanah Suci, pesan itu mengalir lembut: Indonesia akan kuat jika warganya bersatu. Dan persatuan akan bertahan jika empati, keadilan, dan kemanusiaan terus dijaga bersama.

By admin