Jakarta (initogel login) — Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Beberapa pintu rumah di sekitar TPU Kebon Nanas telah tertutup rapat, menyisakan jejak-jejak kehidupan yang baru saja dipindahkan. Sejumlah warga yang selama bertahun-tahun bermukim di kawasan tersebut kini menempati rumah susun sewa (rusunawa)—sebuah perubahan besar yang menyisakan duka, rindu, dan penyesuaian panjang.
Relokasi dilakukan demi penataan kawasan pemakaman dan keselamatan lingkungan. Namun di balik tujuan kebijakan, ada cerita manusia yang tak bisa dipindahkan begitu saja: ikatan dengan tetangga, ingatan akan rumah, dan rasa aman yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun.
Antara Kebijakan dan Kehidupan
Pemerintah menyatakan relokasi sebagai langkah penataan dan pengurangan risiko, sekaligus upaya menghadirkan hunian yang lebih layak. Rusunawa menawarkan fasilitas dasar, akses air dan listrik yang tertib, serta keamanan struktural yang lebih baik.
Namun bagi warga, berpindah bukan hanya soal alamat. “Di sini semuanya baru. Kami masih belajar,” kata seorang ibu sambil menata perabot sederhana di unit rusun. Kebijakan yang rapi di atas kertas sering kali bertemu emosi yang tak sederhana di lapangan.
Human Interest: Rumah Bukan Sekadar Dinding
Di kawasan lama, warga saling mengenal—berbagi kunci, menjaga anak tetangga, dan merawat kebiasaan bersama. Di rusunawa, lorong-lorong panjang mempertemukan orang-orang dengan ritme hidup berbeda. Ada yang cepat beradaptasi, ada pula yang masih merasa terasing.
Seorang bapak lanjut usia mengaku rindu duduk di teras rumah lamanya saat sore. “Di sini tidak ada teras. Kami harus cari cara baru,” ujarnya pelan. Kalimat itu menyimpan kerinduan akan ruang-ruang kecil yang memberi rasa memiliki.
Keamanan Publik dan Martabat Warga
Dari perspektif keamanan publik, relokasi ke hunian vertikal dinilai mengurangi risiko kebakaran, banjir, dan bangunan tidak layak. Namun keamanan fisik perlu diiringi keamanan sosial—rasa aman, nyaman, dan dihargai.
Pendampingan sosial menjadi kunci: orientasi penghuni, penguatan komunitas, dan layanan dasar yang responsif. Tanpa itu, rusunawa berisiko menjadi sekadar bangunan, bukan rumah.
Aspek Hukum dan Kepastian
Relokasi yang manusiawi mensyaratkan kepastian hak—status sewa yang jelas, transparansi biaya, dan akses layanan publik. Warga berharap tidak ada beban tambahan yang tak terduga, serta ada ruang dialog bila muncul kendala.
Kepastian hukum membantu menurunkan kecemasan dan memberi waktu bagi warga untuk menata ulang kehidupan tanpa rasa terancam.
Menjahit Kembali Kebersamaan
Di beberapa lantai, warga mulai berinisiatif: arisan kecil, jadwal ronda, hingga dapur bersama saat akhir pekan. Upaya-upaya ini adalah cara menjahit kembali kebersamaan yang sempat tercerai.
Tokoh warga berharap pengelola rusun mendukung ruang komunal dan kegiatan sosial. “Kalau kami saling kenal, semuanya jadi lebih mudah,” katanya.
Penutup: Menyembuhkan Rindu, Menata Masa Depan
Kesedihan warga TPU Kebon Nanas usai direlokasi ke rusunawa adalah pengingat bahwa pembangunan menyentuh perasaan, bukan hanya fisik. Di tengah tujuan penataan dan keselamatan, empati menjadi jembatan terpenting.
Dengan pendampingan yang konsisten, kepastian hak, dan ruang kebersamaan, rusunawa dapat tumbuh menjadi rumah yang baru—tempat rindu perlahan terobati dan masa depan ditata dengan lebih tenang.