Jakarta (initogel daftar) — Di tengah duka yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera akibat bencana alam, pesan itu datang dengan nada tegas namun empatik. Megawati Soekarnoputri meminta seluruh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk kompak turun tangan membantu korban bencana di Sumatera, tanpa menunggu instruksi berlapis dan tanpa melihat sekat wilayah.
Seruan tersebut bukan sekadar ajakan struktural partai. Ia adalah panggilan kemanusiaan—agar solidaritas hadir lebih dulu, sebelum perhitungan lain menyusul.
Duka yang Memanggil Kebersamaan
Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem telah mengubah hidup ribuan warga Sumatera dalam waktu singkat. Rumah rusak, lahan pertanian terendam, dan aktivitas ekonomi terhenti. Di pengungsian, anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok paling rentan, menunggu uluran tangan yang nyata.
Dalam konteks inilah Megawati menegaskan bahwa kader PDIP harus hadir di tengah masyarakat, membantu sebisanya—mulai dari dapur umum, distribusi logistik, hingga pendampingan warga. “Gotong royong adalah napas bangsa,” pesan yang kerap ia tekankan kembali digaungkan.
Partai dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Bagi PDIP, kehadiran kader di lokasi bencana bukan semata menjalankan instruksi politik, melainkan tanggung jawab moral. Kader diminta bekerja sama dengan pemerintah daerah, relawan, dan aparat setempat agar bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan tumpang tindih.
Pendekatan ini juga menyentuh aspek keamanan publik. Distribusi bantuan yang tertib, data pengungsi yang jelas, serta perhatian pada kelompok rentan menjadi bagian dari kerja kemanusiaan yang beradab dan beretika.
Human Interest: Kader di Tengah Warga
Di lapangan, banyak kader PDIP yang sudah lebih dulu bergerak—memasak di dapur umum, mengangkut bantuan, atau membantu membersihkan rumah warga yang terdampak. Mereka datang bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai tetangga yang peduli.
Seorang warga di lokasi pengungsian berkata, “Yang kami butuhkan itu kehadiran. Ketika ada yang datang dan mendengar, rasanya beban jadi lebih ringan.” Kalimat sederhana itu merangkum makna solidaritas yang diharapkan Megawati tumbuh dari bawah.
Menjaga Etika dan Empati
Megawati juga mengingatkan agar bantuan dilakukan dengan etika dan empati. Tidak ada ruang untuk pencitraan berlebihan di tengah penderitaan. Fokus utama adalah meringankan beban korban dan membantu mereka bangkit.
Dalam praktiknya, ini berarti mendahulukan kebutuhan mendesak—makanan, air bersih, obat-obatan—serta mendukung pemulihan psikososial, terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma.
Gotong Royong sebagai Jalan Pemulihan
Pemulihan pascabencana bukan pekerjaan singkat. Ia membutuhkan kebersamaan yang berkelanjutan. Dengan meminta kader PDIP kompak membantu korban bencana Sumatera, Megawati menegaskan kembali nilai gotong royong sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Di tengah puing dan lumpur, solidaritas menjadi kekuatan. Ketika kader partai, relawan, pemerintah, dan warga berjalan seiring, pemulihan bukan lagi sekadar rencana—melainkan proses yang hidup.
Dari Seruan Menjadi Tindakan
Pesan Megawati adalah pengingat bahwa politik, pada akhirnya, harus bermuara pada kemanusiaan. Di Sumatera, di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, seruan itu diharapkan menjelma menjadi tindakan nyata—hadir, membantu, dan mendampingi hingga warga kembali berdiri.
Karena di saat bencana datang, yang paling dibutuhkan bukan siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang paling sigap mengulurkan tangan.